Dalam novelnya Brave New World yang ditulis pada 1931, Aldous Huxley bercerita mengenai rekayasa genetika di masa depan untuk mengelompokkan anak manusia berdasarkan tingkat kecerdasan menjadi lima jenis mulai dari Alfa Plus, Beta sampai dengan Epsilon. Dengan kecerdasan dan kemampuan super, manusia jenis Alfa Plus menempati posisi penting dalam masyarakat dan mendapatkan berbagai privilese. Sebaliknya, manusia Epsilon bertubuh kerdil dan bodoh sehingga mereka harus puas bisa bekerja sebagai penjaga lift atau tangga berjalan. Setiap manusia merasa puas dengan kemampuan dan peran masing-masing dalam masyarakat karena memang sudah dikondisikan demikian sejak proses penciptaan di laboratorium. Proses pembelajaran dan kondisi emosional anak dikontrol melalui mesin dan obat-obatan. Alhasil, masyarakat di dunia baru ini memang nampak teratur. Tidak ada kekacauan, kejahatan, atau bahkan protes.
Rencana pemerintah untuk membagi anak di sekolah dalam dua jalur pendidikan formal (standar dan mandiri) sudah memancing respon dari kalangan pendidik (Kompas, 7 April 2005 dan 13 April 2005). Pengelompokan anak berdasarkan kemampuan akademis dan finansial ini akan membawa dampak sangat serius bagi proses pendidikan anak-anak bangsa dan perubahan dalam masyarakat.
Pemisahan anak berdasarkan kemampuan akademis dan kecerdasan memang tidak bisa dihindari sama sekali. Dalam era komersialisasi sekolah saat ini, fenomena segregasi yang nampak pada munculnya sekolah-sekolah "unggulan" dan "buangan" makin kentara seiring dengan segregasi pemukiman berdasarkan kelas sosio-ekonomi dan persaingan antar siswa maupun antar sekolah. Namun, fakta ini tidak berarti rencana pemerintah untuk melegalkan pembagian jalur pendidikan formal bisa dibenarkan begitu saja. Di balik beberapa keuntungan yang mungkin bisa didapatkan dari kebijakan ini, pembagian jalur pendidikan formal akan mengarah pada proses dehumanisasi anak manusia seperti yang terjadi pada masyarakat dystopia di Brave New World.
Pengelompokan Akademis
Kebijakan dan praktek pengelompokan anak berdasarkan kemampuan akademis (ability grouping) baik di dalam kelas, sekolah, maupun antar sekolah merupakan salah satu topik penelitian dan perbincangan yang kontroversial di kalangan para pendidik. Pencarian di mesin pencari Google dengan kata kunci ability grouping menghasilkan hampir dua juta artikel dan situs. Para pendidik yang mendukung praktek ini menyebutkan kemudahan bagi para pengajar untuk mefokuskan pengajaran pada satu tingkatan kemampuan siswa dan menyesuaikan kecepatan pengajaran dengan kebutuhan kelompok yang homogen. Selain itu, anak-anak "pandai" seharusnya diberikan tantangan lebih dan kesempatan untuk maju lebih cepat dari rekan-rekannya yang kurang pandai.
Kebanyakan artikel dan penelitian justru mengkritisi praktek pembagian siswa berdasarkan kemampuan akademis dengan beberapa alasan. Pertama, kriteria yang biasanya digunakan untuk membagi siswa seringkali merupakan persepsi subyektif dan pemahaman yang sempit mengenai konsep kecerdasan anak. Kedua, pengelompokan akan menimbulkan pelabelan anak (pintar, bodoh, cepat, lamban) dan kerancuan antara konsep kecepatan belajar dengan kapasitas belajar. Ketiga, penempatan anak pada kelompok atau jalur yang berbeda akan mengarah pada harapan, target, dan ekspektasi yang berbeda pula terhadap anak padahal ada penelitian yang mendukung bahwa motivasi dan hasil belajar anak terkait secara positif dengan ekspektasi guru dan mitra belajarnya. Sekali anak dimasukkan dalam satu kelompok tertentu, kemungkinan sangat besar anak tersebut akan tetap tinggal di kelompok itu sampai akhir masa sekolahnya. Vonis mengenai kemampuan anak pada masa pendidikan sama dengan ramalan yang akan menjadi kenyataan. Bahkan selepas dari masa sekolah, label ini akan terus melekat dalam diri anak. Di Harvard Educational Review (1996), Welner dan Oakes.mendesak agar pengadilan turun tangan dan melarang pengelompokan siswa berdasarkan kemampuan akademis.
Mengajar di kelas yang berisi anak-anak dengan tingkat dan jenis kemampuan yang berbeda memang tidak mudah bagi guru. Metode pengajaran satu arah (ceramah, misalnya) tidak akan efektif. Tapi justru inilah tantangan bagi guru dalam proses pengembangan profesionalisme mereka untuk meningkatkan pendekatan dan metodologi pengajaran. Juga tantangan bagi birokrasi pendidikan untuk menfasilitasi guru dalam pengembangan profesionalisme mereka.
Pada sisi yang lain, tantangan lebih yang diberikan kepada anak-anak "pandai" seharusnya tidak hanya berupa materi lebih sulit yang akan memacu perkembangan kognisi mereka semata. Anak-anak yang dimasukkan dalam kategori "pandai" seharusnya juga diberi kesempatan untuk mengembangkan afeksi, kesabaran, dan kedewasaan emosional untuk bisa belajar bersama dengan anak-anak dengan kapasitas dan kecepatan belajar yang berbeda.
Pengelompokan Sosio-Ekonomis
Pembagian jalur juga akan dilakukan berdasarkan kemampuan finansial anak. Dampak yang akan timbul dari kebijakan ini amat serius dan membawa berbagai persoalan dalam kehidupan bermasyarakat. Anak-anak akan tumbuh dalam lingkungan yang homogen. Anak-anak dari keluarga mampu akan berinteraksi dengan anak-anak lain yang setara secara sosio-ekonomis dan demikian pula dengan anak-anak miskin. Padahal seharusnya anak-anak dari berbagai latar belakang sosio-ekonomis bisa saling berinteraksi dan memperkaya dengan pengalaman hidup mereka masing-masing. Sempitnya lingkungan belajar selama masa sekolah akan membuat anak kehilangan kesempatan untuk mengembangkan empati dan solidaritas terhadap orang lain yang berbeda. Anak perlu belajar mengembangkan kemauan dan kemampuan untuk mengenal dan menghargai manusia lain sebagai seorang individu yang utuh dan bukannya sebagai anggota suatu kelompok yang asing dan mengancam.
Realita di masyarakat saat ini, terutama di kota-kota besar, memang sudah menunjukkan pemisahan warga masyarakat berdasarkan kelas seperti yang terlihat di lingkungan pemukiman, pusat perbelanjaan, sekolah, tempat rekreasi, dan bahkan tempat ibadah. Yang seharusnya dilakukan oleh para pembuat kebijakan pendidikan adalah mendesain model pendidikan yang bisa menyiapkan anak-anak agar nantinya mereka bisa menjadi agen perubahan dan mendobrak berbagai sekat dalam masyarakat.
Jika pembagian jalur pendidikan formal standar dan mandiri ditujukan untuk memudahkan alokasi beasiswa bagi siswa-siswa miskin, solusi tambal sulam ini sangat tidak bertanggung jawab. Berbagai kebocoran dan penyelewengan dana subsidi pendidikan di berbagai tempat seharusnya ditindak-lanjuti dengan upaya penegakan hukum yang tegas, bukannya dengan kebijakan yang akan menimbulkan dampak sangat destruktif dalam proses pendidikan anak. Demikian juga dengan ketidak-mampuan pemerintah untuk menggratiskan pendidikan dasar sembilan tahun bagi semua anak Indonesia seperti yang diamanatkan dalam UUD 1945 dan UU 20/2003.
Di balik segala keteraturan dalam masyarakat Brave New World seperti yang dijanjikan dalam jargon mereka Komunitas, Identitas, dan Stabilitas, ada proses dehumanisasi manusia. Pembagian anak ke dalam jalur pendidikan formal standar atau mandiri di Indonesia juga akan menghasilkan komunitas anak bangsa yang tersekat-sekat, identitas sebagai hasil dari proses yang diskriminatif, dan stabilitas yang hanya menguntungkan penguasa. Di balik segala tatanan yang nampaknya teratur itu muncul suatu kegamangan karena segala upaya pengelompokan dan pengkondisian manusia sesuai label yang diciptakan penguasa telah mencerabut kebebasan manusia untuk menjadi dirinya sendiri dan mencapai yang terbaik yang dia bisa.
Jangan sampai kecenderungan penguasa untuk melenyapkan segala sesuatu yang tidak menyenangkan mengacaukan dunia pendidikan. Setelah rumah-rumah kumuh dan para PKL digusur dan dihilangkan dari pandangan, akan dibawa kemanakah anak-anak "miskin dan bodoh"? Tidak ada jalan pintas atau solusi tambal sulam yang akan membawa dampak efektif dalam proses pendidikan anak. Untuk mengatasi berbagai kerumitan dalam sistem pendidikan nasional, air mata juga dibutuhkan. Seperti kata Shakespeare dalam Othello, "If after every tempest came such calms, may the winds blow till they wakened death" (Jika setiap badai berakhir dengan kedamaian, semoga angin bertiup sampai membangunkan kematian).
Anita Lie
http://www.komunitasdemokrasi.or.id/printerfriendly.php?id=148_0_9_0
Minggu, Mei 24, 2009
DEHUMANISASI PENDIDIKAN
Label: Pendidikan manajemen kesiswaan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar