CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Pyzam Glitter Text Maker



Minggu, Mei 24, 2009

UPAYA MENGATASI SULITNYA MENGHAFAL RARABAN

Oleh: Obin Taryana dan Denny Setiawan

Salah satu operator aritmatika yang sering dianggap sulit, seperti yang telah disampaikan sebelumnya, adalah perkalian. Sejak dulu, sebelum perkalian bisa dijelaskan secara logika kepada peserta didik (misalnya 3 x 4 itu berarti empat-nya ada tiga yaitu empat ditambah empat ditambah empat atau sebaliknya), maka perkalian 1 x 1 hingga 10 x 10 atau sering disebut dengan “raraban” di daerah Jawa Barat, diputuskan untuk dihafal saja oleh para peserta didik. Bagi banyak anak, tugas ini memang tidak mudah. Mereka dari waktu ke waktu terus menghafalkannya karena akan dipresentasikan di depan kelas disaksikan teman-temannya dan bila lupa sang guru sudah siap untuk memberikan hukumannya. Ya itu jaman dulu. SD Bina Talenta pernah membuat beberapa terobosan agar perkalian ini tidak menjadi beban yang berlebihan bagi siswa tapi tetap bisa dikuasainya dengan baik. Upaya yang telah dilakukan antara lain misalnya dengan cara memanfaatkan jari-jari tangan sendiri atau dengan menyajikan raraban lewat lagu-lagu. Jadi, ada lagu perkalian 1, lagu perkalian 2 dan seterusnya. Ternyata upaya ini sangat terbatas dan sulit dikembangkan apalagi untuk perkalian dua digit dengan dua digit atau bahkan lebih
dari itu. Setelah melakukan penelusuran termasuk menggali berbagai sumber, alhamdulillah akhirnya tim ilmiah SD Bina Talenta yang dikoordinir oleh Pa Denny Setiawan, menemukan cara lain yang lebih mudah dan sekaligus cara ini diharapkan dapat menghindarkan siswa dari “harus menghafal raraban”. Memang tidak mungkin kita bisa menguasai aritmatika tanpa memahami perkalian,
pembagian, penambahan dan pengurangan. Hal lain yang tidak kalah pentingnya dalam kalkulasi aritmatika adalah bagaimana kita memeriksa ulang, sebuah hasil yang telah dihitung, sesungguhnya memeriksa hasil hitungan, tidak berarti kita harus menghitung ulang soal tersebut.
Mungkin lebih dari 60 - 70 tahun perkalian dua digit di sekolah selalu dilakukan dengan mengalikan ke bawah, dimulai dengan mengalikan angka satuan dari angka pengali, dilanjutkan dengan langkah-langkah yang telah kita ketahui. Ternyata hal tersebut selain tetap harus teliti juga cukup memakan waktu untuk melakukannya. Berdasarkan kemampuan memahami suatu materi, dikenal ada dua macam siswa, yaitu yang mudah mengerti dan yang lambat bisa mengerti. Menurut seorang matematikawan, perbedaan ini bukan disebabkan oleh otak yang ia bawa sejak lahir, tapi disebabkan oleh bagaimana caranya ia menggunakan otak tersebut. Siswa yang mudah mengerti, ia menggunakan strategi yang lebih baik dari siswa yang lainnya. Metoda yang akan disampaikan antara lain menjelaskan bahwa perkalian 2 sesungguhnya adalah melakukan penjumlahan antara angka yang dikalikan dengan angka yang sama, perkalian 4 sesungguhnya adalah perkalian dua yang diulang. Misalnya 3 x 4 adalah 3 x 2 kemudian dikali lagi dengan 2. Tim ilmiah SD Bina Talenta sangat optimistis dengan metoda ini, mudah-mudahan tidak lama lagi, aritmatika menjadi mata ajaran yang disukai oleh semua peserta didik di SD Bina Talenta, amin.

0 komentar: