Nama saya Yurika Pratiwi. Cukup dipanggil Yurika. Tapi, keluarga saya punya panggilan tersendiri yaitu Ika atau Rika. Sebenarnya waktu SMA saya dikenal dengan sebutan SPYD gara-gara gila spiderman ( sekarang dah sembuh sih He..). Saya lahir dijakarta 19 tahun yang lalu tepat dihari rabu tanggal 16 agustus ( nanggung banget ya mau kemerdekaan ). Saya anak pertama dari dua bersaudara, sebanarnya saya punya kakak laki-laki tapi ia telah tiada sebelum dewasa hiks…
Masa kecil saya tidak jauh beda dengan anak-anak yang lain, tapi kata ibu, saya anak yang tomboy dan pemberani. Ya itu sudah terlihat dari masa TK saya jarang sekali diantar-jemput oleh ibu seperti anak-anak lain. Saya lebih suka berangkat dengan tukang jamu atau tukang sampah komplek, malah terkadang tanpa sepengetahuan ibu (hehehe..). waktu SD saya pun tak kalah metalnya, terbukti dengan peristiwa tertonjoknya pentolan kelas yang memang sudah bikin saya gerah sejak ia ikut kelas kami karena tidak naik dikelas IV. Saya masih ingat benar ia begitu marah saat bogem saya menempel dipipinya, ia langsung memelintir tangan saya, tapi saya tak gentar. Status karateka waktu itu membuat saya amat berani dengannya padahal nyatanya saya mau nangis aja deh kalo bukan karena gengsi hehehe…
Waktu masih dibangku SD saya giat berlatih karate dilingkungan rumah saya, ya lumayanlah sudah sampai sabuk biru. Waktu SMP saya mulai bosan dengan karate karena jurus yang itu-itu mulu alias bosan, apalagi tidak sedikit uang yang harus dikeluarkan untuk kenaikan sabuk dan kejuaraan. Akhirnya saya berhenti saat duduk di kelas 1 SMA dan mencoba hal baru dengan ikut dalam anggota Marching Band di ekskul sekolah, tapi itu hanya beberapa bulan karena susahnya koordinasi antar anggotanya dalam jadwal latihan, akhirnya dibubarkanlah ekskul itu saat saya duduk dikelas 2 SMP. Saat itu saya sudah bingung harus ikut ekskul apalagi karena di SMP Negeri 235 setiap siswa diwajibkan untuk mengikuti ekskul sebagai syarat kenaikan kelas, sedangkan ekskul yang lain sudah tak ada yang menarik. Nah saat itulah guru olahraga saya yaitu bapak Suharnanto memperkenalkan sepak takraw pada saya karena fisik saya yang katanya cukup kuat. Kelenturan kaki saya juga menjadi nilai tambah tersendiri.
Awalnya saya ragu dengan ekskul ini karena pertama saya sama sekali tidak tahu apa itu sepak takraw, kedua kata teman-teman saya itu olahraga yang cukup ekstrim alias keras untuk perempuan. Namun didorong dengan rasa ingin tahu dan tidak enah hati karena disuruh ikut latihan terus oleh pak Nanto, akhirnya saya beranikan untuk ikut. Ternyata itu bukan olahraga bela diri atau semacamnya, itu hanyalah olahraga sejenis voli atau bulutangkis. Namun bedanya olahraga ini memakai kaki sebagai alat peraga utama. Mengunakan bola dari rotan dan menggunakan lapangan seperti lapangan bulutangkis. Awalnya saya susah sekali beradaptasi dengan olahraga ini karena semuanya tidak boleh dilakukan dengan tangan. Sepak sila, sepak tura, sundul kepala, dan gerakkan pokok lainnya membuat saya stress selama beberapa bulan namun entah setan apa yang membuat saya tetap penasaran dengan olahraga ini. Akhirnya setelah latihan setengah mati saya diikut sertakan dalam P3OR ( Pembinaan dan Pelatihan Pelajar OlahRaga). Tentu ini menjadi salah satu titik terang bagi karier olahraga saya mengingat adanya uang pembinaan setiap bulannya. Memang sih tidak banyak, tapi bagi anak SMP waktu itu adalah sesuatu yang pantas dibanggakan. Beberapa pertandingan pernah saya ikuti seperti kejuaraan antar sekolah dan antarwilayah dengan prestasi yang tidak jeleklah. Biarpun belum juara 1.
Setelah lulus SMP saya diterima di salah satu sekolah favorit yaitu SMAN 47 dengan nem 23,43 dino. urut 51. Tapi ternyata itu menjadi mimpi yang teramat buruk bagi saya, bagaimana tidak ternyata sekolah itu masuk siang bagi siswa baru dan naasnya latihan takraw saya dilakukukan setiap sore. Rasa cinta saya pada olahraga ini amat kuat, ini terbukti dengan tidak pernah konsentrasinya saya saat sekolah dihari-hari yang bentrok dengan sekolah. Saya juga sering membolos hanya untuk latihan. Memang terdengar sedikit gila namun, itulah yang terjadi. Alhasil, nilai-nilai saya anjlok tidak bisa naik-naik. Pertama kali ulangan blok saja, saya sudah remedial 11 mata pelajaran dengan nilai rata-rata nilai dibawah 5, betul-betul jatuh mental saya saat itu. Rasanya ingin bunuh diri saja saat itu karena setelah remedial pun nilai saya hanya pas-pasan dengan standar kelulusannya, malah ada beberapa mata pelajaran yang remedial lagi. Ini terjadi berulang-ulang, jumlah mata pelajaran yang mengulang tidak pernah sedikit selalu diatas 7 mata pelajaran. Ini menjadi stress tersendiri bagi saya, mengingat banyak pula pertandingan yang tidak saya ikuti karena jadwal remedial yang harus saya ikuti setiap harinya. Namun, pelan-pelan saya mulai terbiasa dengan tekanan seperti itu yang akhirnya saya sadar bahwa untuk mencapai kesuksesan bukan cuma modal usaha dan do’a saja tapi harus ada pengorbanan meskipun begitu berat. Saya kembali latihan sepak takraw dikelas XI, saat itu tidak ada ekskul sepak takraw di SMAN 47, saya akhirnya ikut latihan klub sepak takraw yang dirujuk dari SMP saya dan SMPN 164, klub ini berisi orang-orang hebat. Kebanyakan sudah punya jam terbang yang cukup wow. Mulai dari sinilah saya mulai serius lagi, tentu dengan sekolah saya karena saya sudah letih masuk lubang yang sama dalam belajar.
Tiap 4 kali seminggu saya latihan takraw setelah sekolah, latihan yang kadang membuat saya pingsan karena latihan fisik yang luar biasa berat namun itu semua menjadi lunas saat saya diangkat menjadi pelatda, meskipun hanya lapis dua tapi itu menjadi kepuasan tersendiri bagi saya. Namun menjelang akhir SMA, saya kembali lagi untuk melepaskan sepak takraw karena persiapan UAN. Mulai dari sinilah saya mulai lelah sendiri latihan takraw karena dengan vacumnya saya, maka status pelatda saya dicabut. Saya mulai kehilangan semangat latihan dan motivasi. Prestasi saya mulai menurun dratis, keinginan untuk mengikuti PON terkikis sudah. Politik yang terjadi diintern pun membuat saya muak. Akhirnya sekarang saya menjadikan sepak takraw hanya sebagai olahraga saja panjaga kebugaran bukan sebagai bagian dari hidup saya lagi.
Lulus SMA dengan nilai yang cukup memuaskan juga merupakan satu kebanggaan bagi saya. Masuk Universitas Negeri merupakan salah satu target utama saya saat SMA, karena tentu saja biayanya yang masih terjangkau untuk orang tua saya. Saya masuk UNJ dengan jalur PMDK langsung memilih manajemen pendidikan sebagai jurusan studi. Padahal saya tidak begitu mengenal MP, tapi entah apa yang mendorong saya untuk masuk jurusan MP sejak duduk dikelas XI SMA. Yang saya ketahui hanyalah pengertian manajemennya saja yang berarti mengatur, saya saat itu hanya beramsumsi bahwa pendidikan akan sesuai dengan kebutuhan siswa dan tepat sasaran bila ada manajer yang ahli dalam pengaturannya. Tapi setelah masuk MP ternyata saya justru jadi stres sendiri, mengingat ternyata kuliahnya harus mengikuti perkembangan zaman alias up to date. Hari ini belajar tentang kebijakan pemerintah, esoknya kebijakannya sudah dihapus lantaran diprotes masyarakat. Kemampuan dari teman-teman saya juga merupakan satu tantangan yang harus diperhitungkan mengingat daya saing yang makin hari makin heboh saja. Daya serap dan pengetahuan mereka merupakan satu patokkan bagi saya untuk mengejar ilmu karena saya bukanlah mahasiswa yang rajin membaca atau browsing artikel diinternet. Maka, saya sebisa mungkin untuk ikut meng-up date dunia pendidikan, meskipun terkadang masih suka tertinggal (hehe...).
Senarnya kalau berbicara tentang cita-cita, saya juga masih sedikit ragu dengan kemampuan saya. Bayang-bayang ingin menjadi atlit kadang masih suka terlintas dibenak. Namun, realita yang ada hanya menjadikan saya sedih sendiri dan tidak fokus lagi pada pendidikan. Sebenarnya cita-cita saya tidak muluk-muluk kog, hanya ingin jadi istri yang baik buat suami saya kelak dan ibu yang teladan. Tapi, balik lagi nasehat orang tua saya yang menginginkan anaknya jadi orang yang bisa merubah sesuatu. Jadi beban sih itu semua tapi untuk kebahagian orang tua ya sudah dijalani saja dengan tekun (caElah Dah) meskipun jadi terkesan toxic pedagogic ya. Mungkin menjadi guru adalah langkah awal bagi saya dalam memulai karir, karena dengan menjadi guru saya bisa tahu secara langsung apa yang menjadi kebutuhan yang benar-benar harus diprioritaskan dalam pembelajaran. Selain observasi saya juga bisa menyalurkan ilmu saya pada siswa meskipun jurusan MP tidak dipersiapkan untuk menjadi guru, tapi sedikit-sedikit saya mengertilah tentang sejarah,meskipun hanya sejarah bangsa kita (hehehehe...). Kepala sekolah adalah target berikutnya. Saya memang berambisi dengan kedudukan ini karena saya berasumsi bahwa hebat tidaknya sebuah sekolah adalah tergantung pada kemampuan dan kebijaksanaan dari kepala sekolah.
Saya juga berencana untuk membuat satu terobosan kurikulum yang heboh banget deh. Tapi itu dia yang susah bikin yang heboh-heboh hehehe... belom kepikiran juga sih konsepnya kaya apa tapi ga apa-apa lah namanya juga niat he...
Selanjutnya apalagi ya yang mau dicapai....
To be countinue deh....
^_^
.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar