oleh :MUZAMIL SAg
Dewasa ini, menghafal bukan lagi pilihan metode dalam pembelajaran. Model ini dinilai menghambat perkembangan daya cipta maupun daya kritis anak didik. Dibanding dengan penerapan model menghafal ini pada tempo dulu, anak didik sekarang kiranya patut bersyukur. Mereka tidak mengalami rasanya ‘distrap’ -berdiri di depan kelas dengan kaki terangkat dan tangan menjewer telinga sendiri- hanya karena tidak hafal hasil perkalian.
Meski sudah tidak ngetren, pada kompetensi dasar tertentu di sekolah, metode menghafal tetap dibutuhkan. Semisal pada hafalan surat pendek Alquran dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SD. Ada beberapa cara yang bisa diajarkan agar siswa mudah menghafal, misalnya dengan memenggal, mengelompokkan, menghubungkan, menyusun singkatan, dan cara paling konvensional; mengulang-ulang pengucapan.
Menghafal deretan nomor telepon selular misalnya, lebih mudah jika dipenggal. Nama Kolibri lebih mudah diingat jika diketahui lebih dahulu bila Kolibri termasuk kelompok burung. Atau menghafal ibukota Peru, yaitu Lima, akan lebih mudah bila dihubungkan dengan bilangan. Sedang menghafal warna pelangi cukup disingkat ‘mejikuhibiniu’ untuk menyebut Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila, dan Ungu. Cara-cara di atas memang efektif untuk menghafal karena demikianlah cara kerja otak manusia. Dalam beberapa referensi dan kepustakaan, kegiatan menghafal erat kaitannya dengan ingatan (memory), dimana ada kesanggupan dari otak manusia untuk mencamkan, menyimpan, dan mereproduksi suatu informasi. Sedang informasi ini diperoleh sebagai tanggapan atas hasil pengamatan inderawi.
Proses menghafal surat pendek dalam Alquran juga dimulai dari pengamatan inderawi, khususnya secara visual maupun auditif. Dimulai dengan membaca teks atau mendengar contoh ucapan dari guru, siswa kemudian mencamkan dan menyimpan informasi ini dalam benaknya hingga mampu mereproduksi dengan cara mengucapkannya kembali saat diminta oleh guru. Menurut Teori Pengolahan Informasi, ingatan memunyai sistem kerja tersendiri. Mula-mula, informasi disimpan sebagai sensory storage (SS), kemudian masuk short term memory (STM). Dalam STM ini, informasi mengalami seleksi; ada yang dilupakan, ada pula yang masuk dalam long term memory (LTM). Supaya informasi dari SS bisa masuk STM lebih dulu harus diubah dalam bentuk sandi (encoded). Informasi yang berhasil dipertahankan pada STM akan masuk ke LTM melalui beberapa cara, antara lain chunking (pemenggalan), clustering (pengelompokkan), dan rehearsals (pengulangan). Proses rehearsals ternyata memengaruhi kemampuan seseorang untuk mempelajari kembali (relearning) kelak suatu saat. Uniknya apa yang diingat pada usia 15 bulan sampai 3 tahun itu lebih kuat dibanding ingatan yang lain. Kondisi ini bisa didasarkan pada pengalaman kita. Doa tertentu yang pernah kita hafalkan ketika kanak-kanak, lalu selama bertahun-tahun tidak pernah diucapkan, suatu saat ternyata mudah kita ucapkan kembali dengan sempurna hanya dengan mendengarnya satu kali. Sementara hal yang kita pelajari berulang-ulang ketika sudah dewasa, menjadi mudah sekali untuk terlupakan. Akan halnya hafalan surat pendek dalam Alquran untuk anak SD, siswa bisa diajak untuk memenggalnya atau menghafal bagian demi bagian. Juga diajak mengelompokkan surat tersebut berdasarkan latar belakang penurunannya, menghubungkan lafal surat dengan artinya, dan membacanya berulang-ulang setap hari baik di sekolah maupun saat di rumah.
Momentum menghafal surat pendek dalam Alquran bagi anak-anak itu sangat penting karena akan terus diingat hingga kelak dewasa. Ini tentu menjadi bekal dalam praktik peribadatan sehadi-hari. Atas dasar kondisi dan manfaat ini, perlu kiranya ada peningkatan kualitas pengajaran hafalan surat pendek di sekolah.
http://www.koranpendidikan.com/artikel/2475/metode-menghafal-surat-pendek-alquran.html
Rabu, Mei 20, 2009
METODE MENGHAFAL SURAT PENDEK ALQURAN
Label: Pendidikan manajemen pembelajaran
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar